Tuhan mendengar juga keinginin hati untuk segera menginjakkan kaki ke sana. Di Bali. Bermodal harga promo menginap di Tune Hotel, Kuta dan tiket pesawat yang kebetulan dapat harga murah meriah. Bertolak ke Bali tengah bulan September yang baru saja berlalu. Kebetulan pertama kali merasakan sekaligus mendapatkan tiket serba murah ala backpacker dari info sani sini, kemudian hunting sesuai apa yang ku dapat infonya dan saya mendapatkan tiket pesawat Air Asia dengan harga IDR45.000 pulang pergi Jogja-Bali-Jogja dan tak sengaja pula aku mendapatkan harga promo menginap di Tune Hotel sekelas minimal bintang 2 dengan harga IDR5000 per malam dengan fasilitas standar, kamar bersih dengan ukuran 3×3 include kamar mandi dalam sangat bersih dan kasur empuk, dapet kipas angin, air panas tanpa toiletries, TV, dan AC, jika menginginkan fasilitas tambahan seperti toiletries harus membayar lagi sebesar IDR17000 per malam atau tambahan AC menambah IDR40000 per malamnya, tetapi aku tidak butuh semua tambahan itu.

Yang ku butuhkan hanyalah tempat bisa menyandarkan punggung ini dengan rileks dan air panas saja, sesuai. Karena di sana memang pertama kali menjalankan misi ngetrip solo ala gembel, yang penting bisa meraup pengalaman hidup warga lokal, tau banyak soal local wisdom, kebudayaan mereka dan bagaimana cara mereka hidup, itu yang terpenting serta hidup berdampingan dengan warga lokal. Bertandang menikmati alam pulau Dewata adalah sesuatu yang saya nanti-nanti dalam hidup ini.

Seperti biasa, sebelum berangkat tuk menyeberang pulau, saya mempersiapkan ransel untuk backpakeran, tidak banyak yang disiapkan karena hanya trip sabtu-minggu saja, tetapi yang wajib di bawa adalah kamera, recorder, handycam, dan yang tak kalah penting adalah jangan membawa barang untuk di bagasi. Yaay! Setelah semuanya beres, saya langsung cabut menuju Bandara Adi Sucipto, untuk naik burung baja yang sudah menungguku disana. Pagi jam 5:30 aku sudah sampai di bandara dan cek in, semua berjalan lancar. Pukul 8 pagi sampai di Bandara Ngurah Rai, Bali, Langit cerah nan biru pulau impian yang telah menyambutku. Panas, iya panas banget, kataku.

Dari bandara saya sengaja jalan kaki menyusuri pantai sambil menikmati menuju hiruk pikuk keramaian kota Kuta. Pagi itu saya melihat orang orang keluar rumah memberikan sesaji atau sembahyang yang di letakkan di pura pura kecil terletak dihalaman rumahnya masing masing berharap doanya terkabul saat dalam memulai hari untuk bekerja, berjualan dan lain sebagainya dengan tujuan diberkati dan banyak berkah oleh Tuhan yang di yakininya. Sepintas, saya pikir kota ini seperti bukan kota yang semestinya di Bali, yang melimpah dan surganya budaya, semua nampak kebarat baratan, itu yang nampak dari awal saya menginjakkan kaki di Kuta, memang ini surganya tempat orang untuk membuang uang dan plesiran karena saat disana berjalan melintas banyak bangunan, perilaku masyarakat minim syarat budaya lokal dan arus budaya benar benar seperti bergeser menjadi sangat hedonis, saat melihat sepintas dan benakku berkata demikian.

Saya sangat kawatir dengan kondisi ini dengan datangnya orang bule dari seluruh penjuru dunia membawa budaya barat dari negaranya masing masing akan membawa pengaruh perubahan budaya barat terhadap bali. Semoga tidak! Semoga adat istiadat bali tetap terjaga dan lestari walau tak terbantahkan banyak para pelancong yang hadir dan menjadi hal yang utama sebagai mata pencaharian warga lokal, karena inilah nilai jualnya. Terbukti masih banyak bentuk bangunan yang masih menjaga budaya dan pakaian adat bali yang kuat sekali dengan masyarakat yang masih teguh dengan pakaian adat bersliweran di jalanan. Kususuri jalanan kuta selama 2 jam lebih dengan membawa GPS (Gunakan Penduduk Setempat) sekalian mencari Tune Hotel yang entah dimana gedung itu berdiri.

Perjalanan jalan kaki menuju arah tak jelas untuk menikmati atmosfir deretan kota pesisir pantai Kuta tidak terlalu melelahkan karena pemandangan disekitar kompleks tersebut menarik sehingga lelah yang seharusnya saya rasakan tergantikan oleh rasa kepuasan melihat pemandangan sekitar kompleks tersebut. Akhirnya ketemu juga tuh Hotel, ‘nylempit’ di antara gang di dekat pantai Kuta. Aku kemudian cek in di Hotel yang seharga 5 ribu perak per malamnya sembari merebahkan punggung yang seharian memanggul ransel. Fasilitas yang kudapatkan di hotel tersebut lumayan dengan harga segitu, bersih rapi seperti hotel kelas bintang 2 dengan konsep minimalis, sudah ada air panas, kipas angin, tetapi ruangan sedikit sempit.

Jika ingin mendapat fasilitas lebih seperti AC kudu bayar lagi 40 ribu per malam, untuk toiletries nambah 17 ribu per malamnya. Untungnya, saya tak butuhkan itu semua, karena percuma juga mendapatkan banyak fasilitas tetapi di Bali saya akan selalu di luar untuk menjelajah seluruh wilayah kota, pulangpun sudah kecapean dan mandi kemudian langsung tepar.

Saat malam tiba, aku kontak beberapa orang CS bali, hanya ada 2 orang yang memang aku hubungi yaitu Hermanto dan Arifah, karena hanya itu kontak yang aku punya, dan saat itu juga saya janjian dengan Hermanto, untuk ketemu di hotel jam 19:30 WITA. Ketemuanlah aku dengan Hermanto, dan dia mengajakku untuk keliling Kuta, dia mengajakku makan malam dimana anak anak CS bali sering berkumpul sambil mengisi perutnya. Disini biasanya kami berkumpul dan sekaligus makan malam bareng, selain memang harganya terjangkau bagi kaum traveller, tempatnya juga asik, Kata Hermanto. Aku beruntung bisa bertemu dia, bisa diajak keliling untuk dikenalkan Kuta, juga dapat cerita pengaaman dia soal CS dan budaya orang Bali. Selesai makan malam, kita janjian ketemuan dengan arifah juga di pinggir pantai kuta. Kami cerita cerita ngalor ngidul diiringi suara ombak dan angin sepoi berbau amis pantai. Ini merupakan pertamakalinya traveling sendirian dan gabung dengan komunitas traveling CS. Banyak hal yang dapat kuserap dari pengalaman dan cerita dari mereka. Cool! Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam, akhirnya kami putuskan balik keperaduan.

Hari kedua, aku di pinjami motor arifah, dengan garansi aku kudu membuatkan plat nomor motornya yang memang sudah tak nempel lagi di belakang motornya. Akhirnya, kupinjamlah motor arifah untuk keliling Kuta sendirian. Putar putar kota ga jelas, menghafalkan jalanan disana dan berbincang bincang dengan warga lokal sekitar soal aktifitas keseharian orang bali. Menjelajahi jalanan kota Kuta sudah cukup memulai untuk memutar kenangan dan kesan yang indah. Jalanan di Kuta kebanyakan tidak cukup luas, namun semua kendaraan berjalan lancar, tak ada macet. Di jalan-jalan utama, terkadang kendaraan berjalan padat merayap.

Namun saya tak jenuh, karena bangunan-bangunan di kanan-kiri jalan yang tertata rapi penuh pepohonan besar dan rindang, terkadang penuh artistik atau bahkan bernilai sejarah, menjadi hiburan tersendiri bagi para pengendara. Warga Bali dengan kultur yang sangat kuat dan masih menggunakan kasta sebagai tolok ukur level dalam kehidupan sosialnya yang tergambar dalam bangunan pura yang ada di depan rumahnya, selain penggunaan nama seseorang. Selain sebagai tempat persembahyangan dan doa, pura yang di bangun semakin besar dan megah pura itu berdiri kokoh di depan rumahnya menandakan dia berada di level atas dan orang yang ‘berada’.

Setelah putar putar kota, saat aku mencari tempat pembuat plat nomor untuk motor Arifah, sesuai pesan sang empunya motor. Rada susah menurutku mencari tempat yang membuat plat setelah putar putar lamanya, akhirnya Aku dapatkan tempat pembuatannya, dia dari semarang, dari ngobrol dengan pembuat plat ternyata tidak bisa langsung jadi saat itu juga karena dia lagi banyak pesanan. Kuputuskan untuk tak membuatnya, tetapi kuganti plat nomor tersebut dengan coklat hehe. Setelah sore hari aku mengontak Arifah untuk ketemuan, ternyata dia orang yang sibuk dan pekerja keras, karena bisa ketemu dengan dia kudu nunggu hingga jam 9 atau 10 malam, karena dia selepas pulang dari kantor jam 5 sore masih banyak hal yang harus dia selesaikan.

Sembari nunggu untuk ketemu dengan dia, kumanfaatkan waktu untuk ngobrol ngobrol dengan satpam Tune Hotel. Satpamnya baik hati, menceritakan berbagai hal soal kebudayaan yang masih kental di Bali. Beruntungnya aku. Selebihnya, aku menengok kehidupan malam Kuta Bali memang identik, tidak heran karena ada berbagai bar, pub, kafe dan diskotik yang selalu ramai pengunjung di waktu malam. Jalan Legian dekat Kuta Bali adalah contoh nyata dari kehidupan malam di Bali. Kehidupan Malam di Kuta identik dengan gemerlapnya lampu disko dan gerakan erotis para penari. Gadis indonesia terlihat ramai di daerah ini, walaupun banyak juga wisatawan manca seperti asia juga memadati jalanan dan pub ataupun bar.

Pukul 10 malam, aku ketemuan dengan Arifah di kos nya, dan kuputuskan untuk tidak lagi balik ke hotel melainkan, nge-surf di tempatnya Arifah, dan ini merupakan pertamakalinya aku ngelakuin couch request di tempat lain yang menjadi destinasiku, karena aku biasanya hosting temen temen traveler di komunitas saat orang orang berkunjung ke Jogja. Begini toh rasanya. Asik juga dan unik, kataku dalam hati. Pengalaman yang mengesankan ini akan selalu aku ingat. We share, we care, and happiness. Kami ngobrol-ngobrol dengan Arifah hingga tengah malam, biacara soal komunitas traveling ini, dan hal lain yang menjadi pengalaman hebat masing-masing. Tetapi sebetulnya ga banyak yang bisa kulakuin untuk explorasi Kuta secara umum, tetapi banyak hal yang bisa kulihat dari solo backpakeranku selama disana, rame, banyak bule, gemerlap, kerlap kerlip lampu, jalanan, orang orang lalu lalang, cafe, warung, rumah Bali, pohon di sarungi.

Keesokan harinya saat subuh menjelang, Arifah bersedia bangun dan mengantarkanku ke bandara di Ngurah Rai. Sangat baik hati, aku sangat menghargai ketulusannya untuk membatuku. Makasih Arifah ya, kataku kulontarkan ke dia. Dan berakhirlah perjalananku yang agak amazing ini hehe. Secara keseluruhan perjalanan ini untuk melihat suasana masyaraka berbudaya budaya dan melihat langsung kemegahan kehidupan Bali yang beragam. Selain itu tempat ini cocok untuk mereka yang tidak terlalu suka dengan perjalanan wisata yang terlalu ‘rough’ dan melelahkan. Indonesia memang bangsa yang memiliki sejarah nusantara yang menarik teman.