Browsing: Traveling

Meneguk Kehidupan Hedonisme dan Plural Bali

Tuhan mendengar juga keinginin hati untuk segera menginjakkan kaki ke sana. Di Bali. Bermodal harga promo menginap di Tune Hotel, Kuta dan tiket pesawat yang kebetulan dapat harga murah meriah. Bertolak ke Bali tengah bulan September yang baru saja berlalu. Kebetulan pertama kali merasakan sekaligus mendapatkan tiket serba murah ala backpacker dari info sani sini, kemudian hunting sesuai apa yang ku dapat infonya dan saya mendapatkan tiket pesawat Air Asia dengan harga IDR45.000 pulang pergi Jogja-Bali-Jogja dan tak sengaja pula aku mendapatkan harga promo menginap di Tune Hotel sekelas minimal bintang 2 dengan harga IDR5000 per malam dengan fasilitas standar, kamar bersih dengan ukuran 3×3 include kamar mandi dalam sangat bersih dan kasur empuk, dapet kipas angin, air panas tanpa toiletries, TV, dan AC, jika menginginkan fasilitas tambahan seperti toiletries harus membayar lagi sebesar IDR17000 per malam atau tambahan AC menambah IDR40000 per malamnya, tetapi aku tidak butuh semua tambahan itu.

Yang ku butuhkan hanyalah tempat bisa menyandarkan punggung ini dengan rileks dan air panas saja, sesuai. Karena di sana memang pertama kali menjalankan misi ngetrip solo ala gembel, yang penting bisa meraup pengalaman hidup warga lokal, tau banyak soal local wisdom, kebudayaan mereka dan bagaimana cara mereka hidup, itu yang terpenting serta hidup berdampingan dengan warga lokal. Bertandang menikmati alam pulau Dewata adalah sesuatu yang saya nanti-nanti dalam hidup ini.

Seperti biasa, sebelum berangkat tuk menyeberang pulau, saya mempersiapkan ransel untuk backpakeran, tidak banyak yang disiapkan karena hanya trip sabtu-minggu saja, tetapi yang wajib di bawa adalah kamera, recorder, handycam, dan yang tak kalah penting adalah jangan membawa barang untuk di bagasi. Yaay! Setelah semuanya beres, saya langsung cabut menuju Bandara Adi Sucipto, untuk naik burung baja yang sudah menungguku disana. Pagi jam 5:30 aku sudah sampai di bandara dan cek in, semua berjalan lancar. Pukul 8 pagi sampai di Bandara Ngurah Rai, Bali, Langit cerah nan biru pulau impian yang telah menyambutku. Panas, iya panas banget, kataku.

Dari bandara saya sengaja jalan kaki menyusuri pantai sambil menikmati menuju hiruk pikuk keramaian kota Kuta. Pagi itu saya melihat orang orang keluar rumah memberikan sesaji atau sembahyang yang di letakkan di pura pura kecil terletak dihalaman rumahnya masing masing berharap doanya terkabul saat dalam memulai hari untuk bekerja, berjualan dan lain sebagainya dengan tujuan diberkati dan banyak berkah oleh Tuhan yang di yakininya. Sepintas, saya pikir kota ini seperti bukan kota yang semestinya di Bali, yang melimpah dan surganya budaya, semua nampak kebarat baratan, itu yang nampak dari awal saya menginjakkan kaki di Kuta, memang ini surganya tempat orang untuk membuang uang dan plesiran karena saat disana berjalan melintas banyak bangunan, perilaku masyarakat minim syarat budaya lokal dan arus budaya benar benar seperti bergeser menjadi sangat hedonis, saat melihat sepintas dan benakku berkata demikian.

Saya sangat kawatir dengan kondisi ini dengan datangnya orang bule dari seluruh penjuru dunia membawa budaya barat dari negaranya masing masing akan membawa pengaruh perubahan budaya barat terhadap bali. Semoga tidak! Semoga adat istiadat bali tetap terjaga dan lestari walau tak terbantahkan banyak para pelancong yang hadir dan menjadi hal yang utama sebagai mata pencaharian warga lokal, karena inilah nilai jualnya. Terbukti masih banyak bentuk bangunan yang masih menjaga budaya dan pakaian adat bali yang kuat sekali dengan masyarakat yang masih teguh dengan pakaian adat bersliweran di jalanan. Kususuri jalanan kuta selama 2 jam lebih dengan membawa GPS (Gunakan Penduduk Setempat) sekalian mencari Tune Hotel yang entah dimana gedung itu berdiri.

Perjalanan jalan kaki menuju arah tak jelas untuk menikmati atmosfir deretan kota pesisir pantai Kuta tidak terlalu melelahkan karena pemandangan disekitar kompleks tersebut menarik sehingga lelah yang seharusnya saya rasakan tergantikan oleh rasa kepuasan melihat pemandangan sekitar kompleks tersebut. Akhirnya ketemu juga tuh Hotel, ‘nylempit’ di antara gang di dekat pantai Kuta. Aku kemudian cek in di Hotel yang seharga 5 ribu perak per malamnya sembari merebahkan punggung yang seharian memanggul ransel. Fasilitas yang kudapatkan di hotel tersebut lumayan dengan harga segitu, bersih rapi seperti hotel kelas bintang 2 dengan konsep minimalis, sudah ada air panas, kipas angin, tetapi ruangan sedikit sempit.

Jika ingin mendapat fasilitas lebih seperti AC kudu bayar lagi 40 ribu per malam, untuk toiletries nambah 17 ribu per malamnya. Untungnya, saya tak butuhkan itu semua, karena percuma juga mendapatkan banyak fasilitas tetapi di Bali saya akan selalu di luar untuk menjelajah seluruh wilayah kota, pulangpun sudah kecapean dan mandi kemudian langsung tepar.

Saat malam tiba, aku kontak beberapa orang CS bali, hanya ada 2 orang yang memang aku hubungi yaitu Hermanto dan Arifah, karena hanya itu kontak yang aku punya, dan saat itu juga saya janjian dengan Hermanto, untuk ketemu di hotel jam 19:30 WITA. Ketemuanlah aku dengan Hermanto, dan dia mengajakku untuk keliling Kuta, dia mengajakku makan malam dimana anak anak CS bali sering berkumpul sambil mengisi perutnya. Disini biasanya kami berkumpul dan sekaligus makan malam bareng, selain memang harganya terjangkau bagi kaum traveller, tempatnya juga asik, Kata Hermanto. Aku beruntung bisa bertemu dia, bisa diajak keliling untuk dikenalkan Kuta, juga dapat cerita pengaaman dia soal CS dan budaya orang Bali. Selesai makan malam, kita janjian ketemuan dengan arifah juga di pinggir pantai kuta. Kami cerita cerita ngalor ngidul diiringi suara ombak dan angin sepoi berbau amis pantai. Ini merupakan pertamakalinya traveling sendirian dan gabung dengan komunitas traveling CS. Banyak hal yang dapat kuserap dari pengalaman dan cerita dari mereka. Cool! Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam, akhirnya kami putuskan balik keperaduan.

Hari kedua, aku di pinjami motor arifah, dengan garansi aku kudu membuatkan plat nomor motornya yang memang sudah tak nempel lagi di belakang motornya. Akhirnya, kupinjamlah motor arifah untuk keliling Kuta sendirian. Putar putar kota ga jelas, menghafalkan jalanan disana dan berbincang bincang dengan warga lokal sekitar soal aktifitas keseharian orang bali. Menjelajahi jalanan kota Kuta sudah cukup memulai untuk memutar kenangan dan kesan yang indah. Jalanan di Kuta kebanyakan tidak cukup luas, namun semua kendaraan berjalan lancar, tak ada macet. Di jalan-jalan utama, terkadang kendaraan berjalan padat merayap.

Namun saya tak jenuh, karena bangunan-bangunan di kanan-kiri jalan yang tertata rapi penuh pepohonan besar dan rindang, terkadang penuh artistik atau bahkan bernilai sejarah, menjadi hiburan tersendiri bagi para pengendara. Warga Bali dengan kultur yang sangat kuat dan masih menggunakan kasta sebagai tolok ukur level dalam kehidupan sosialnya yang tergambar dalam bangunan pura yang ada di depan rumahnya, selain penggunaan nama seseorang. Selain sebagai tempat persembahyangan dan doa, pura yang di bangun semakin besar dan megah pura itu berdiri kokoh di depan rumahnya menandakan dia berada di level atas dan orang yang ‘berada’.

Setelah putar putar kota, saat aku mencari tempat pembuat plat nomor untuk motor Arifah, sesuai pesan sang empunya motor. Rada susah menurutku mencari tempat yang membuat plat setelah putar putar lamanya, akhirnya Aku dapatkan tempat pembuatannya, dia dari semarang, dari ngobrol dengan pembuat plat ternyata tidak bisa langsung jadi saat itu juga karena dia lagi banyak pesanan. Kuputuskan untuk tak membuatnya, tetapi kuganti plat nomor tersebut dengan coklat hehe. Setelah sore hari aku mengontak Arifah untuk ketemuan, ternyata dia orang yang sibuk dan pekerja keras, karena bisa ketemu dengan dia kudu nunggu hingga jam 9 atau 10 malam, karena dia selepas pulang dari kantor jam 5 sore masih banyak hal yang harus dia selesaikan.

Sembari nunggu untuk ketemu dengan dia, kumanfaatkan waktu untuk ngobrol ngobrol dengan satpam Tune Hotel. Satpamnya baik hati, menceritakan berbagai hal soal kebudayaan yang masih kental di Bali. Beruntungnya aku. Selebihnya, aku menengok kehidupan malam Kuta Bali memang identik, tidak heran karena ada berbagai bar, pub, kafe dan diskotik yang selalu ramai pengunjung di waktu malam. Jalan Legian dekat Kuta Bali adalah contoh nyata dari kehidupan malam di Bali. Kehidupan Malam di Kuta identik dengan gemerlapnya lampu disko dan gerakan erotis para penari. Gadis indonesia terlihat ramai di daerah ini, walaupun banyak juga wisatawan manca seperti asia juga memadati jalanan dan pub ataupun bar.

Pukul 10 malam, aku ketemuan dengan Arifah di kos nya, dan kuputuskan untuk tidak lagi balik ke hotel melainkan, nge-surf di tempatnya Arifah, dan ini merupakan pertamakalinya aku ngelakuin couch request di tempat lain yang menjadi destinasiku, karena aku biasanya hosting temen temen traveler di komunitas saat orang orang berkunjung ke Jogja. Begini toh rasanya. Asik juga dan unik, kataku dalam hati. Pengalaman yang mengesankan ini akan selalu aku ingat. We share, we care, and happiness. Kami ngobrol-ngobrol dengan Arifah hingga tengah malam, biacara soal komunitas traveling ini, dan hal lain yang menjadi pengalaman hebat masing-masing. Tetapi sebetulnya ga banyak yang bisa kulakuin untuk explorasi Kuta secara umum, tetapi banyak hal yang bisa kulihat dari solo backpakeranku selama disana, rame, banyak bule, gemerlap, kerlap kerlip lampu, jalanan, orang orang lalu lalang, cafe, warung, rumah Bali, pohon di sarungi.

Keesokan harinya saat subuh menjelang, Arifah bersedia bangun dan mengantarkanku ke bandara di Ngurah Rai. Sangat baik hati, aku sangat menghargai ketulusannya untuk membatuku. Makasih Arifah ya, kataku kulontarkan ke dia. Dan berakhirlah perjalananku yang agak amazing ini hehe. Secara keseluruhan perjalanan ini untuk melihat suasana masyaraka berbudaya budaya dan melihat langsung kemegahan kehidupan Bali yang beragam. Selain itu tempat ini cocok untuk mereka yang tidak terlalu suka dengan perjalanan wisata yang terlalu ‘rough’ dan melelahkan. Indonesia memang bangsa yang memiliki sejarah nusantara yang menarik teman.

{ Comments are closed }

Ciyus Bang Rhoma…Cuma Daihatsu Terios Yang Bisa Diajak Berkelana!

Sebagai orang yang hobi jalan-jalan berkeliling kota, desa, pantai dan pegunungan sarana transportasi yang handal sangat dibutuhkan. Jika dulu waktu masih mahasiswa sudah cukup puas menjelajah negeri indah ini dengan bis atau kereta, atau naik motor trail sampai ke Puncak Lawu atau naik gerobak sapi mengitari desa-desa di Madura nun jauh di sana, maka semua itu tinggal kenangan indah yang tersimpan dalam album kenangan yang kubuka saat merindukan masa muda hehehe.

Waktu berjalan, usia bertambah, badan mulai masuk angin kalau terkena terpaan angin di perjalanan maka naik motor untuk penjelajahan sudah dihentikan. Stop! Ga kuat lagi. Apalagi karena sekarang sudah punya keluarga sepertinya akan susah sekali memboyong seluruh anggota keluarga dengan dua anak aktif yang luar biasa dalam kendaraan umum.

Pertama punya mobil adalah sedan karena nyaman dan anak-anak masih kecil jadi mereka cukup didekap dalam perjalanan plus susu botol langsung deh tidur manis sampai tujuan. Acara jalan-jalan ke gunung jelas belum masuk hitungan lagi. Paling kita pergi ke pantai yang landai, dengan jarak tempuh pendek dan aman di perjalanan tanpa guncangan yang berarti jadi sedan masih bisa digunakan.

Tahun demi tahun berlalu, kesibukan dan masalah memakan waktu dan anak-anak tumbuh besar. Terbayang lagi indahnya berkelana ala Bang Rhoma Irama. Rasanya kaki sudah gatal ingin menginjak rumput basah dan menikmati lagi padang bunga edelweis mekar di kaki gunung. Saya selalu merindukan itu, suasana hening, udara dingin menggigit, angin yang menderu dan menikmati bintang-bintang yang berpijar indah yang hanya bisa kita nikmati di tempat tinggi berudara bersih tanpa polusi. Kami ingin melihat jagoan kami tumbuh sebagai lelaki tulen yang juga tahu dan tahan berbagai kondisi hidup. Bukan hanya anak yang diam di rumah berkaca mata tebal bertubuh tambun karena jarang bergerak dan terlalu banyak main game. Oh.. no. Very big no! Mereka harus jadi petualang yang mencintai alam. So…?!

Saat pulang mudik lebaran kemarin kami melaju memakai sedang mengeksplorasi keindahan gunung Muria, di Kudus. Oh…jangan lupa diingat, jalannya terjal dan mendaki, sempit dan jalan terbagi dua jalur atas dan bawah bersaing dengan bus-bus besar yang menyalip seenaknya tanpa nyali. Sampai di puncak, kami pias, emosi jiwa ketakutan digerus bus yang tinggi besar. Belum lagi sedan harus terengah-engah dalam perjalanan ke puncak. Hoho..cukup sudah petualangan pertama memakai sedan. Maka evaluasi dilakukan. Rapat digelar.

Kami melirik mobil yang selama ini setia mendampingi. Hm…sedan kami memang nyaman dan irit, tapi jelas bukan kendaraan yang tepat untuk menyalurkan hobi berkelana. Kakak yang berlangganan majalah mobil langsung membuka-buka halaman majalah mencari beberapa option mobil yang cocok untuk berpetualang. Kesimpulan pertama,kita harus berganti mobil jenis SUV (Sport Utility Vehicle) yang nyaman digunakan di kota tapi cocok juga menyususri pegunungan.

Hm…jadi pilihannya adalah mobil jenis SUV yang selain tampilannya mesti ganteng dan gagah, juga harus masih terjangkau dompet untuk membayar angsuran bulanannya hehe. maklum keluarga muda banyak keperluan. Selain itu? Harus dari pabrikan yang terpercaya, berkaitan dengan harga jual kembali tidak boleh terlalu jatuh seperti mobil sedan kami. Syarat lainnya konsumsi BBMnya mesti irit karena kita harus bersiap-siap pakai pertamax yang jauh lebih mahal dari premium. Juga harus mudah dan murah perawatannya, suku cadangnya muurah dan gampang didapat, bandel, nyaman dikendarai baik dalam posisi sopir maupun penumpang, baik duduk di bangku depan atau belakang. Karena kenyamanan anak-anak dalam kendaraan jelas salah satu prioritas kami juga.

Kakak membuka seluruh mobil SUV yang dia taksir. Adik ikut bersemangat mengamini. Maka berjejerlah gambar jip legendaris Amerika yang gagah, SUV buatan Jerman yang muahal, dan tentu saja SUV buatan Jepang dan Korea yang merajai pasaran mobil Indonesia.Menghitung kancing jelas bukan cara jitu menentukan pilihan. Kami browsing dan googling membandingkan keduanya dari berbagai pertimbangan yang telah disebutkan diatas. Aha! Mantap saya tunjuk SUV dari pabrikan Jepang yang sudah terbukti handal dan dapat diandalkan. Pilihannya jatuh pada Daihatsu Terios.

Dan pada saat driving test, seluruh anggota manggut-manggut tanda setuju. Yes..! Setelah tanda tangan dan mengurus semuanya, daihatsu Terios hitam yang gagah menjadi anggota keluarga baru.

Dua tahun sudah berlalu. Hingga kini mobil selalu dalam kondisi prima, yang penting harus selalu mendapat perawatan rutin dan ganti oli pada saat harus ganti oli. Kami senang tidak salah pilih mobil. Terakhir mudik Lebaran sampai Semarang cuma habis premium Rp250 ribu saja. Untuk empat orang penumpang yang manggut-manggut karena jok depan belakang sama-sama nyaman dan ruang belakang yang muat untuk membawa oleh-oleh buat seluruh keluarga tanpa perlu repot-repot menaruhnya di atas atap mobil. No..no..no..saya ga suka! Anak-anak tidur dengan nyaman selama perjalanan. Musik mengalun jernih dari peranti digital audio yang menemani selama perjalanan. Dan yang tak ada di mobil lain adalah perlengkapan turbo boost yang membuat mobil melaju kencang seolah mendapat tambahan power, melibas seluruh jalan tol tanpa henti. Kami sering membayangkan sedang naik pesawat supersonik ketika turbo boost mode on hehe…Wuuuuzzz!

Dan sekarang ada generasi baru Daihatsu Terios yang lebih ganteng dan gagah. Apalagi yang warna putih keren abizz! Dilihat dari luar mantap coba kita longok ke dalam. SUV ini memuat 7 seat. Wow leganya. Bisa bawa keponakan juga bisa nih. Atau bawa Yangkung dan Yangti ikut jalan-jalan saat pulang kampung.

Jadi saat lebaran nanti akan muat lebih banyak orang. Asiknya lagi kursinya bisa dikeluarkan. Saya sudah membayangkan canping sekeluarga sambil membawa tenda, panggangan, alat pancing beserta seluruh perlengkapan mandi dan makan beserta sleeping bag akan termuat nyaman di kursi paling belakang tanpa menganggu kenyamanan anak-anak di kursi baris ke dua. Begitu sampai di lokasi tenda didirikan seluruh perlengkapan masak dikeluarkan, membuat api unggun, memanggangg daging atau ikan juga sosis dan marshmello kesukaan anak-anak. Makan malam bersama sambil melihat bintang berpendaran. Asiknya. Kalau tiba-tiba hujan seperti sekarang? Tenang…kabin terios yang lega akan cukup memuat tidur empat orang.

Sekarang Terios sudah mengalami perbaikan lagi. Keren banget. Untuk menguji ketangguhan mesin, kesempurnaan handling dan mengji kenyamanan penumpang selama di perjalanan PT Daihatsu Indonesia menggelar program Daihatsu Terios 7 Wonders, sebuah program petualangan yang dilakukan oleh 7 orang awak Daihatsu dari beragam latar belakang media massa dimulai tanggal 10-24 Oktober yang mempunyai misi mengeksplorasi dan memperkenalkan 7 spot penghasil kopi unggulan di Sumatera. Daerah yang dilewati diantaranya Liwa, Pagaralam, Bukit Tinggi, Tarutung, Medan, Takengon, Langsa, dan yang terakhir 0 meter di Sabang, Aceh. Ngiler kita kepengen juga.

Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Merak Bakahuni lalu menuju Lampung. Kondisi jalan menuju Lampung yang mulus merupakan sarana yang ideal untuk berakselerasi. Alhasil kecepatan maksimal 120 km/jam dapat diraih oleh Daihatsu Terios.

Karena kopi harus ditanam di daerah yang tinggi maka daerah yang dilewati Terios adalah daerah yang curam, berkelak-kelok, naik turun, dan terkadang harus terjebak lumpur saat hujan lebat. Dari galeri foto bisa dilihat kalau selama dalam perjalanan meskipun Terios di hajar di jalanan jelek ternyata suspensi Terios masih oke dan mampu melewati semua tantangan itu.

Selain mengeksplorasi kenikmatan kota di seluruh Sumatera rombongan tak lupa melakukan program CSR juga yang dilakukan tim Daihatsu Terios 7 Wonders dengan cara melaksanakan korban sapi dan memberikan bantuan pada Posyandu di beberapa tempat yang dilewati.

Rangkaian perjalanan panjang tim Terios 7-Wonders sepanjang 3.657 km selama 15 hari berakhir di tugu Nol Kilometer tepat pukul 12.48 WIBtim Terios 7-Wonders sudah berhasil mennyelesaikan seluruh etape perjalanan panjang ini tanpa ada kendala berarti. Terbukti Terios adalah SUV yang tangguh.

{ Comments are closed }

Museum Di Kota Padang

Museum adalah hal pertama yang akan aku cari saat berpergian ke suatu kota. Nah , saat berkunjung ke kota Padang maka aku mencari museum yang ada di sana. Dan aku melihat museum dengan bangunan rumah Gadang dengan halaman asri yang luas. Rumah Bagonjong merupakan rumah panggung dengan atap meniru tanduk kerbau. Jumlah gonjong yang ada di atap museum sebanyak 7 buah. Terletak di jalan Diponegoro 10 Kecamatan Padang Barat. Museumnya diberi nama Museum Adityawarman. Museum ini dibangun tahun 1974 dan diberi nama museum Negeri Propinsi Sumatera Barat. Tapi tahun 1979 diganti dengan nama Adityawarman. Nama ini adalah nama raja yang pernah berkuasa di daerah Minangkabau. Museum ini digunakan sebagai tempat menyiman dan melestarikan benda bersejarah.Museum ini dibangun karena perlunya wadah pemeliharaan warisan budaya sebagai usaha agar benda warisan budaya ini tak terbawa keluar negeri.

Bentuk museum , bentuk rumah Gadang adalah ciri khas dari Sumatera Barat. Dilengkapi dengan dua bangunan lumbung padi di kiri dan kanan rumah Gadang. Kemudian dipadukan dengan adanya miniatur pedati dan pesawat terbang peninggalan perang dunia ke 2. Ada patung utuh sepasang manusia dengan pakaian adat Minangkabau. Juga terdapat monumen di halamannya yang asri.Patung pria yang lagi duduk dan bambu runcing ada di tangannya dan terdapat tulisan Untuk Kami Nusa Djaja, Kamulah Gugur Derita Sengsara,Kamu Bertugu di Jiwa bangsa, Lambang Bermutu Selama masa. Di belakang monumen ini terdapat naskah proklamasi dengan tanggal 9 Maret 1950 dimana tanggal itu Padang dikembalikan ke pangkuan Indonesia. Ada bendi di sudut halaman. Luas dengan banyak pohon dan tanaman sehingga terlihat sangat asri. Di sisi sebelah kiri terdapat area bermain anak-anak dengan alat permainan yang beraneka ragam.Dalam museum ini terdapat 6000 koleksi yang terbagi dalam 10 kategori seperti :

  1. Arkeologi. Terdiri dari benda –benda bersejarah dari zaman pra sejarah hingga masuknya budaya barat.
  2. Biologika. Terdiri dari rangka manusia purba, fosil hewan dan tumbuhan
  3. Numismatika. Terdiri dari aneka mata uang, cap, tanda jasa berupa pangkat dan stempel.
  4. Geologika. Terdiri dari aneka andesit, permata,granit serat alat untuk pemetaan.
  5. Keramologika. Terdiri dari bahan pecah belah.
  6. Historika. Terdiri dari benda bersejarah yang berkaitan dengan tokoh , organisasi.
  7. Etnografika . Terdiri dari benda bersejarah yang memperlihatkan identitas suatu etnis dan kegiatan budayanya.
  8. Filologika. Terdiri dari naskah kuno.
  9. Seni rupa terdiri dari seni artistik yang bisa dilihat dari 2 dimensi atau 3 dimensi.
  10. Teknologika . Terdiri dari benda benda yang menunjukan perkembangan teknologi mulai dari yang tradisional sampai modern

Di sana banyak diaroma yang menampilkan sistim adat, kekerabatan ibu yang berlaku di masarakat Minang. Pakaian adat juga banyak berbeda dari satu daerah dengan daerah lainnya yang ada di Sumatera Barat. Begitu juga dengan rumah adat. Tampak luar seperti sama tapi ada perbedaan di setiap daerah. Juga terdapat banyak bentuk perhiasan, instrumen musik, beberapa upacara adat , perkakas yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari masarakat tradisional Minangkabau.Ada ruang khusus untuk mengenalkan sistim kekerabatan Minangkabau. Terdapat singgasana kerajaan lengkap dengan pernak pernik yang didominasi warna kekuningan keemasan. Beberapa serahan untuk pengantin khas Sumatera Barat serta satu set rumah gadang yang digunakan untuk upacara pernikahan. Juga terdapat replika arca Adityawarman. Sangat mirip dengan aslinya yang terdapat di Museum Nasional Jakarta.

Jadi gak ada salahnya saat di kota Padang bisa mengunjungi museum ini. Halaman yang asri membuat kita betah di sana dan rumah gadang dengan atap yang tinggi membuat sirkulasi udara bagus dengan jendela yang lebar sehingga aliran angin begitu terasa membuat udara menjadi sejuk.

{ Comments are closed }

Perahu Terbalik

Gunung Tangkuban Perahu sudah tak asing lagi bagi masarakat Jawa Barat khususnya. Gunung yang berada di kawasan Bandung Utara tepatnya di daerah Cikole, Lembang. Gunung ini masih termasuk gunung yang aktif, terakhir kali meletus pada tahun 2013. Tapi gunung relatif aman untuk dikujungi wisatawan. Tanda gunung ini masih aktif adalah bau belerang yang menyengat di sana di kawah –kawah yang ada di gunung Tangkuban Perahu. Begitu juga terdapatnya aliran air panas yang bersumber dari gunung . Gunung Tangkuban Perahu ini punya ketinggian setinggi 2084 di atas permukaan laut atau 6873 kaki. Suhu di sana berkisar 17 derajat Celcius di siang hari dan malam hari bisa mencapai 2 derajat celcius. Kalau kita lihat dari jauh, maka akan kita melihat bentuk gunung Tangkuban Perahu ini seperti perahu yang terbalik. Dan itu ada ceritanya juga. Di sisi lain lereng gunung ini ditanami dengan kebun teh yang hijau.

Nah, bentuk gunung ini seperti perahu terbalik ini ada ceritanya. Dikenal dengan legenda Sangkuriang. Dulu ada wanita cantik bernama Dayang Sumbi. Dayang Sumbi hidup dengan anaknya Sangkuriang yang sangat dia sayangi. Mereka juga punay anjing yang setia bernama si Tumang yang sebenarnya adalah ayah dari Sangkuriang sendiri, tapi Sangkuriang tak mengetahuinya. Suatu waktu Sangkuriang berburu bersama dengan Tumang. Tapi karena sampai sore dia tak mendapatkan satupun hewan, makanya Sangkuriang memutuskan untuk membunuh Tumang anjing kesayangan ibunya. Saat pulang daging Tumang dimasak oleh ibunya. Tak lama kemudian Dayang Sumbi merasa kehilangan Tumang. Dia menanyakan keberadaan Tumang pada Sangkuriang. Saat tahu kalau yang dia masak adalah daging Tumang, Dayang Sumbi marah besar dan mengusir Sangkuriang pergi jauh. Dayang Sumbi menyesal telah mengusir anaknya dan dia mohon diberi umur panjang dan wajah yang muda terus.

Suatu saat Sangkuriang yang sudah menginjak dewasa bertemu dengan Dayang Sumbi. Akhrinya mereka jatuh cinta. Tapi di saat yang sama Dayang Sumbi melihat ada bekas luka di kepala Sangkuriang. Dayang Sumbi terkejut kalau dia jatuh cinta dengan anaknya sendiri. Agar pernikahan tak terjadi Dayang Sumbi memberikan syarat pada Sangkuriang agar membuat danau dan perahu dalam satu malam. Sangkuriang tenyata sangat sakti, Dayang Sumbi begitu takut kalau Sangkuriang bisa menyelesaikannya. Oleh sebab itu Dayang Sumbi berusaha kuat agar Sangkuriang tak bisa menyelesaikannya. Dayang Sumbi berdoa agar matahari cepat terbit. Doanya terkabul. Sangkuriang sangat marah dan menendang perahunya sampai terbalik. Dan perahu yang terbalik itu menjelma jadi gunung yang disebut dengan gunung Tangkuban Perahu atau perahu terbalik.

Di gunung ini terdapat tiga kawah utama yang terbentang luas yang sudah berumur puluhan ribu tahun. Aku kembali ke Tangkuban Perahu bersama ibu-ibu Darma Wanita dan aku banyak melihat perubahan di wisata ini.Saat ini areal Tangkuban Perahu sudah tertata rapi dibanding saat dulu. Pedagang-pedagang dengan kios-kiosnya juga ditata rapi sehingga sangat memudahkan wisatawan untuk membeli. Agak bawah dari areal kawah terdapat terminal dimana wisatawan berhenti di sana dan diantar mobil menuju ke atas. Dan yang aku suka di kios-kios di sana banyak dijual kerajinan rajutan buatan penduduk setempat. Banyak perempuan yang menjaga kios sambil merajut. Dan aku menemukan mantel rajut yang aku inginkan tapi belum aku temukan di Cirebon. Untung aku menemukan di sini. Dan banyak kuliner yang menghangatkan tubuh seperti bandrek. Minum bandrek ditemani dengan ketan bakar itu terasa nikmat sekali.. Dalam udara dingin yang menusuk tulang dan kabut yang tebal membuat bandrek dan teh rasa bunga melati ini terasa menghangatkan tubuh. Perjalanan ke Tangkuban Perahu yang sudah lama aku tak berkunjung ke sini membuat aku banyak teringat kenangan saat kecil berkunjung ke sana bersama keluargaku. Ah, masa dulu yang menjadi kenangan indah. Dan perjalanan kali ini ada untungnya juga aku bisa mengingat kembali kenangan masa kecil dulu, walau sekarang sarana dan prasarananya sudah cukup bagus dan tertata rapi dibandingkan dulu.

{ Comments are closed }